Minggu, 08 Januari 2012

"Secangkir Kopi dari Playa" seduhan Mira Asriningtyas ...

Sunday, January 8, 2012

A Love Story Told on Mother's Day 

http://thepicnicgirl.blogspot.com/2012/01/love-story-told-on-mothers-day.html

 (the tour bus)

 *****

At first, my mom hesitated to go watching Papermoon Puppet Theater's performance that night. If it wasn't a Mother's Day celebration, she would prefer staying at home and miss this heartwarming performance. I’m glad she finally said yes.  

Secangkir Kopi dari Playa* (A Cup of Coffee from Playa) is a site-specific puppet theater performance by Papermoon (I wrote about this theater once, here). The story was based on a true love story of Pak Wi** who got separated from his lover for over 40 years and spend his life waiting in vain, searching for the love of his life to fulfill his promise. It was such a coincidence that he shares the same nick name with my late father: "Pak Wi". That small fact must have meant a lot to my mom. :) 

That afternoon, we park the car at Kedai Kebun Forum and wait for the tour leader to take us to the 'secret' place where the play would be performed. A cute bus named "Sari Buah" (literally translated as "Fruit Juice") took us from KKF to Jangkrik Antique Warehouse. An old school styled tour guide (performed by Wulang, one of my favorite young artist) cheer us up by giving explanations with a dash of dry jokes about some old building we pass along the way.. Some jokes were so dry, it turned out hilarious. Especially at the end of the tour, we simply can't stop laughing!  

When the show begin, my mom and my sisters starts whispering to each other at certain parts, giggling, taken away by the story, and in some parts~ shed some sparkling tears. The story was heartbreaking but our story was a happy ending one. My mom was very happy (look at her smile at the end of this post!) and that's what really matters for me and my sisters.

Thank you, Papermoon..


*****

(Me and my sister, Mirla)

(Left: Me,my mom, my sisters Mirna and Mirla in the bus- Right: with mbak Ria Papermoon)
 
(Manda of Perempuan Gimbal, miy, and mb Ria of Kuwaci Kecil posing on the set)

*****

(with Dito next to the love bike)

*****

 (with my friend Octo who acted as the polaroid photographer)

 (with the mother of Papermoon herself)

*****

At the end of the show..


(My joyful mom hand-in-hand with my sisters)

*****

Photographed by Dito Yuwono, Octo Cornelius, and Hera Ariani








P.S.:
(*)   More about Secangkir Kopi dari Playa>> click here
(**) The true (heartbreaking) love story of Pak Wi >> click here: (1)(2)(3)(4) >> please read.. it worth all the fuss in clicking those four links.. it might remind you that true love exist. ;)
(***) There's a new update at Lir's blog: a review and a preview! >> click here

We are on Skana ..

Secangkir Cinta dari Masa Lampau

Secangkir Cinta dari Masa Lampau

Dec 29, 2011
Ditemani hujan. Jam setengah delapan malam saya tiba di Kedai Kebun Forum, 30 menit sebelum pertunjukan Setjangkir Kopi dari Plaja dimulai. Saya hanya menduga-duga tempat pertunjukan seperti apa yang akan saya datangi nanti, sebab di Kedai Kebun saya melihat tak ada satu pun sudut ruang yang dihiasi dekorasi pementasan, dan lokasi tempat pertunjukan juga dirahasiakan dari calon penonton. Bersama beberapa calon penonton, saya menunggu penjemput kami. Ya, menanti penjemput kami, karena jauh hari sebelum pertunjukan Setjangkir Kopi dari Plaja diadakan, saya mendapat kabar bahwa akan ada bus yang menjemput dan membawa para penonton menuju ke tempat pertunjukan. Setelah menunggu agak lama, akhirnya bus penjemput pun datang. Rute yang kami tempuh antara lain melewati Jalan Tirtodipuran, kemudian menyeberang ke arah timur menuju Jalan Prawirotaman, dan bus berbelok ke arah selatan yaitu ke wilayah Karangkajen. Sungguh menyenangkan berangkat bersama para penonton lainnya menuju ke tempat pertunjukan. Di dalam bus juga disediakan seorang tour guide, yaitu Mas Wulang Sunu. Dengan gaya yang kocak, Mas Sunu sibuk bercerita kepada kami tentang beberapa bangunan bersejarah yang sempat kami lewati. Penjelasan-penjelasan dari tour guide membuat perjalanan menjadi lebih santai dan menggembirakan. Perjalanan kami berhenti di sebuah toko barang-barang vintage yang berada di kawasan Karangkajen. Saya bersama para penonton lainnya langsung turun keluar dari bus dan tour guide membawa kami memasuki toko tersebut.
Terpesona. Itulah ekspresi pertama yang saya rasakan begitu melihat seluruh isi toko, dan pasti bukan hanya saya saja yang terkesima dengan semua barang antik yang ada di sana, sebab hampir semua pengunjung berdecak kagum setelah melihat koleksi toko. Tak lupa tour guide memperkenalkan kami kepada si pemilik toko dan kami dipersilakan berkeliling melihat barang-barang vintage yang ada di toko itu. Sempat saya bertanya-tanya dalam hati apakah Papermoon Puppet Theatre akan mengadakan pertunjukannya di toko tersebut, mengingat toko terlihat sesak penuh dengan barang-barang vintage dan para pengunjung tampak agak kesulitan mencari jalan untuk mengelilingi ruangan. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan di hati kecil saya. Si empunya toko mengajak para pengunjung menyeberang menuju bangunan berikutnya. Bangunan kedua ini juga sama persis seperti bangunan pertama, hanya saja ada kursi-kursi antik yang sengaja ditata sebagai tempat duduk para penonton, dan tempat inilah yang akan digunakan sebagai area pertunjukan. Langsung saja pemilik toko meminta para pengunjung untuk menduduki kursi-kursi tersebut sambil menawarkan koleksi barang-barang vintage-nya.
Sebuah cangkir mungil yang antik. Barang inilah yang secara khusus ditawarkan kepada para penonton oleh si pemilik toko. Seorang nenek menitipkan cangkir antiknya di toko tersebut. Menurut pemilik toko, cangkir ini unik bukan hanya karena antik atau karena usianya yang tua, tapi juga karena cangkir ini memiliki kisah yang istimewa bagi si nenek. Ketika si pemilik toko sedang asyik berceloteh soal cangkir antiknya, tiba-tiba semua lampu dalam bangunan toko barang antik itu padam. Si pemilik toko berusaha menenangkan para penonton dan ke luar ruangan untuk meminta tukang lampunya menyalakan lampu kembali.


Lampu menyala. Para penonton telah dibawa mundur ke masa lampau, tahun 1960an. Tampak sepasang kekasih duduk berdampingan di panggung. Mereka tampak bahagia. Bercakap-cakap, bersepeda bersama, dan menghabiskan waktu berdua sambil minum kopi dari cangkir antik tadi. Kisah cinta mereka pun berlanjut sampai pada keputusan sang pemuda yang mengikat janji akan menikahi gadis pujaannya itu. Di saat cinta mereka sedang tumbuh subur, sang pemuda terpaksa harus meninggalkan kekasih dan tanah airnya dalam rangka mengemban tugas dinas belajar di Rusia atas perintah Presiden Soekarno. Walaupun mereka tinggal di dua negara yang berjauhan, namun hubungan kedua insan itu tetap berlanjut dalam surat-surat yang mereka kirim lintas benua. Ketegangan cerita mulai muncul ketika beberapa tahun setelah sang pemuda belajar di Rusia terjadi peristiwa 1965 di tanah air. Akibat peristiwa tersebut sang pemuda harus kehilangan paspor dan kewarganegaraannya; sehingga tidak bisa berkomunikasi lagi dengan kekasih dan keluarganya di tanah air. Empat puluh tahun berlalu setelah peristiwa 1965. Sang pemuda yang telah berpuluh tahun tidak bertemu kekasihnya ini ternyata tetap memegang janji dan memilih untuk tidak menikahi siapapun sampai dia bisa bertemu lagi dengan kekasihnya.


Sang gadis sudah menikah dengan lelaki lain dan berkeluarga. Sang pemuda kembali ke tanah air. Walaupun telah lanjut usia, kedua sejoli ini tetap menyimpan rapi kenangan manis masa muda mereka. Cangkir antik yang sempat muncul di awal cerita dipilih sebagai penanda cerita cinta yang tak pernah mereka lupakan. Menjelang akhir cerita, cangkir itu kembali ditampilkan dan masih tersimpan bagus di tangan sang pemuda. Kemudian tanpa sepengetahuan sang gadis, pemuda mengirimkan cangkirnya kepada gadis itu. Dari adegan ini sangat jelas terbaca pesan yang ingin disampaikan sang pemuda untuk kekasihnya, bahwa sang pemuda masih hidup dan telah kembali ke tanah air. Dan yang paling penting adalah sang pemuda masih mengingat gadis itu walaupun telah berpisah selama empat puluh tahun lamanya.


Betapa indahnya rasa pernah sangat mencintai dan dicintai. Setjangkir Kopi dari Plaja bertutur tentang cerita cinta yang terinspirasi dari kisah nyata. Maria Tri Sulistyani, direktur artistik pementasan ini, mengemas kisah cinta Pak Wi dan kekasih masa lampaunya ke dalam sebuah pementasan boneka yang apik. Cerita mengenai Pak Wi sendiri didapat Mbak Ria, sapaan akrab Maria Tri Sulistyani, ketika sedang melakukan riset pertunjukan pada pertengahan tahun 2010. Keberadaan Pak Wi juga berhasil dilacak. Pria berusia 71 tahun ini lahir di Jawa Timur pada 2 September 1940 dan pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Sipil UGM serta mengambil S2 di Institut Metalurgi Baja di Moskow. Hingga saat ini Pak Wi bekerja sebagai ahli metalurgi di Playa, Havana, Kuba.


Mengeksplorasi sebuah toko barang antik. Inilah yang dikerjakan Papermoon Puppet Theatre untuk menciptakan suasana masa silam bagi pementasan mereka. Selain berangkat dari kisah nyata, pementasan berdurasi hampir satu jam ini juga memanfaatkan sebuah toko barang antik sebagai tempat pertunjukan mereka. Toko barang antik dipilih sebagai tempat pertunjukan karena memiliki kekuatan untuk menghidupkan kisah cinta yang telah terpendam selama puluhan tahun. Barang-barang antik mempunyai cerita zamannya masing-masing. Seluruh isi toko barang antik itu telah berhasil membuat para penonton masuk ke dalam kisah cinta yang klasik. Bukan hanya barang-barang antik saja yang ditampilkan untuk mendukung setting waktu Setjangkir Kopi dari Plaja, tetapi para aktor dan aktris juga mengenakan kostum vintage, iringan musik yang membuat para penonton seolah-olah kembali ke masa lampau, barang-barang lawasan yang memperkaya imajinasi penonton turut serta dipakai sebagai setting tempat permainan boneka sang pemuda dan kekasihnya. Semua terangkum menjadi satu di dalam toko barang antik tersebut.
A classic love story at the antique shop. Semangat kisah cinta yang tak pernah padam telah berhasil disuguhkan Papermoon Puppet Theatre dalam pertunjukan Setjangkir Kopi dari Plaja. Semoga cerita Pak Wi dan kekasih masa lampaunya membuat kita belajar untuk menjaga apa yang telah kita miliki dalam hidup kita. (Airani Sasanti/foto: Indra Wicaksono, dok. Papermoon Pupet Theatre)
***
Komentar penonton
Pentas yang penuh surprise karena dibuka dengan pengenalan sejarah barang-barang penghuni gudang. Pertunjukan ini menjadi berbeda dengan pertunjukan yang lain karena memanfaatkan gudang barang-barang lawasan sebagai panggung. Hal ini membuat artis dan penonton tidak ada jarak. (Wisnu Ajisatria, pemotret)
Pementasan Setjangkir Kopi dari Plaja membuat penonton seketika kembali ke 50 tahun silam. Kemasan tragedi kemanusiaan digabung dengan kisah cinta dikemas oleh Papermoon Puppet menjadi kisah yang indah dan tak mengurangi esensi cerita aslinya. Semoga pementasan ini menjadi awal sebuah rekonsiliasi dan penghilangan stigma bagi para korban tragedi kemanusiaan 65. (Kartika Pratiwi, managing director KotakHitam Forum)

Selasa, 03 Januari 2012

a letter from Martha ... and a polaroid photo from Amanda...

On Dec 22, 2011, at 0:10, Martha Stroud <mstroud@berkeley.edu> wrote:

Mbak Ria yang baik,
Saya berharap bahwa saya tidak mengganggu Anda kalau saya menulis e-mail ini kepada Anda. Saya tidak berpikir bahwa saya bisa tidur tanpa mencoba menjelaskan pikiran saya (atau reaksi langsung saya) kepada Anda.
Sesudah pertunjukkan "Secangkir Kopi dari Playa," saya pergi ke Milas untuk makan. Saya duduk di sana dan melanjutkan mengalami emosi dari pertunjukkannya. Dulu, waktu saya bilang kepada Anda "Tidak ada kata untuk mendeskripsikan emosi saya,"
mungkin seharusnya saya bilang "Sulit untuk menemukan kata..." (bukan "tidak ada kata").  Kadang-kadang, saya merasa seperti anak kecil di dalam bahasa baru ini dan terutama sekarang.
Dari pelajaran bahasa Indonesia, saya tahu kata-kata "cantik" dan "indah." Kata-kata ini artinya "beautiful." "Cantik" untuk perempuan atau orang yang cantik. Indah untuk pemandangan yang indah atau danau yang indah (dll).Saya tidak tahu bagaimana bilang "beautiful" untuk pertunjukkan. Tetapi pertunjukkan "Secangkir Kopi dari Playa" beautiful sekali.

Saya tahu kalau ada orang seperti presiden, dia berkuasa. Dia punya kekuasaan. Di dalam bahasa Inggris, saya bisa menerjemahkan kata "kekuasaan" menjadi "power." Tetapi saya tidak tahu kalau kata itu hanya cocok dengan konteks politik atau bisa dipakai untuk mendeskripsikan kekuasaan secara emosi atau perasaan. Pertunjukkan "Secangkir Kopi dari Playa" powerful sekali. Pertunjukannya sangat mempengaruhi perasaan dan emosi saya.

Akhirnya, saya tahu kalau saya menaruh jari saya di atas sesuatu, saya menyentuh benda itu. Tetapi bagaimana kalau saya ingin bilang bahwa pertunjukannya "touched my heart." Menyentuh hati saya? (Atau jantung saya?) Saya kurang tahu kalau bisa bilang itu di dalam bahasa Indonesia, tetapi itu benar. "Secangkir Kopi dari Playa" touched my heart very much.

Sebelum sekarang, saya belum bingung tentang arti kata-kata ini. Tetapi pertunjukkan "Secangkir Kopi dari Playa" membuat saya mau mencari kata baru (atau arti yang persis) untuk mendeskripsikan pengalaman emosi saya yang baru dan luar bisa. Mudah-mudahan, Anda bisa mengerti kenapa saya bilang "tidak ada kata..."

Saya berpikir bahwa di pusatnya, cerita "Secangkir Kopi dari Playa" adalah cerita tentang cinta yang lama. Tetapi ceritanya juga tentang kehilangan, waktu yang berlalu, politik, sejarah, ingatan, dan hubungan di antara masa lalu dan saat ini. Ada dimensi begitu banyak di dalam "Secangkir Kopi dari Playa." Di pusatnya, cerita itu manis (tetapi juga menyedihkan, menurut saya) dan sangat menghormati pengalaman Pak Wi yang mengalami itu.

Saya tahu bahwa bagian reaksi saya tidak hanya terhadap cerita tetapi juga terhadap teater boneka Anda. Semua pemain boneka di dalam pertunjukkan bagus sekali dan dulu saya mencoba mengucapkan terima kasih kepada mereka. (Saya bisa agak malu.) Musik dan lampu dan kualitas production bagus sekali. Saya menikmati pengalaman lengkapnya - dari berkumpul di Kedai Kebun Forum sampai kembali ke sana. Dan keputusan untuk mempertunjukkan "Secangkir Kopi dari Playa" di toko barang antik pandai karena sudah berpikir tentang hubugan di antara masa lalu dan saat ini sebelum boneka masuk. Saya tidak bisa membayangkan pertunjukkan itu bisa dipisahkan dari toko barang antik itu.

Ada jauh lebih banyak yang bisa saya bilang tetapi e-mail ini sudah panjang dan saya tahu bahwa Anda sibuk sekali.
Minggu depan saya akan bepergian dari Yogya selama dua minggu. Saya akan kembali 12 Januari. Saya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Anda sesudah saya kembali untuk mengobrol lebih lama.

Seperti saya bilang dulu, saya merasa bahwa saya sangat beruntung untuk menonton "Secangkir Kopi dari Playa," dan ya, saya sungguh menangis (dan juga tertawa) dan berpikir bahwa pertunjukkan itu luar biasa. Terima kasih dan selamat untuk sukses pertunjukkan itu.

I meant every word, and the performance still has stayed with me. I'm lucky I got to experience it. Happy holidays to you as well, and I hope you and Iwan have a safe and fun time in Japan.

 Salam hormat,
Martha


*Martha is a researcher from USA. 
 


polaroid photo by Amanda Mita- Riset Indie

a letter from Thom ...

Hello again!

This is Thom, the non-Indonesian, American, that attended the Friday, December 16th showing of "Setjangkir Kopi Dari Plaja". Kemampuanku berbahasa Indonesia masih jelek sekali, jadi mohon maafkan aku ya, tapi aku cuma ingin mengungkapkan betapa terpesonanya aku malam ini! Wadu, pertunjukannya sangat di luar biasa, dan aku nggak bisa berhenti memikirkan tentangnya. That was really exceptional stuff. Honestly, I feel compelled to speak in my mother tongue, otherwise I won't be able to express how very moved I am by the performance this evening. In all seriousness, a fire could have broke out around me, and I would have sat there, still transfixed on what was happening in the play. You all have made an everlasting admirer out of me :) I'm so glad I live here in Yogyakarta, where I hope I can catch another one of your shows again. I wish all of you nothing but success, and I hope to someday see all of you back in my home, DC. I'll bring a hell of a crowd. I promise. Terima kasih banyak.

Salam hangat (banget)
Thom

*******************

a complete writing by mas Jaya Limas

Setjangkir Kopi Dari Plaja: Classic Love Story in an Antique Shop

03 Januari 2012 | Views (17)
By Jaya Limas

http://www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/setjangkir-kopi-dari-plaja-classic-love-story-in-an-antique-shop

Yogyakarta - When the light is on, on top of a desk not far form the audience a puppet of man is seen sitting alone. Meanwhile in a table not far from the desk a puppet of a girl is stirring a cup. The cup is then brought and served to the man. The two sit side by side telling stories in silence. Keroncong music could be heard vaguely. Suddenly rain starts to fall heavily and they try to cover each other, but an umbrella opens and protects them from the rain. They continue their conversation.


The rain stops and the couple move away. Walking on air toward an old bicycle. He sits on the saddle, ringing the bell. She sits on the back of the bicycle and then he starts to paddle, they move forward in silence. Along the way they converse, holding hands. Occasionally he will ring the bell. Arriving to their destination, they float to a chair with flowers nearby. She pulls out a book and they get absorbed in it turning pages by pages.

A photographer suddenly appears and offers to take their photos. A piece of photographs is produced by his polaroid camera. the man puppet receives the photo and shakes it around. He seems stunned by the photo and then give it to the girl puppet. For quite a long time they sit looking at the photo while embracing each other. At the end of the desk in the corner of the room, another male puppet appears, watching them from afar.

At the front left corner, silhouettes of a head and a microphone appears along with the sound of a radio news. The news is about the nation best sons and daughters are being sent to study under the service bonds in Russia. The couple return to their seats by the table with the cup. Sadness descent upon them as they sit apart from each other. She bows her head and looking forlorn. He bows his head too, but then turning his head to her as he tries to get her attention to see the small red velvet box containing a ring. She turns he head to see the box and was startled, happy and bows her head again. She receives the red box, still bowing her head. Eventually they both stare at each other.

He stands up, carrying his suitcase. She stands up, holding the red box in her hands and moves toward him. He kissed her in the forehead and then floats away to a big suitcase and sits on top of it. She floats away to a box at the other end of the room and opens the box, turning the box handle so it shows gloomy images representing her feelings. At the opposite side of the room, a group of people wearing kopiah approach the man puppet with cheerful excitement as they put on a kopiah on his head. The atmosphere turns merry. The man puppet looks spirited. Two other people show up and put on a red and white scarf around the shoulders of the man puppet and the other persons standing with him. After giving a salute the crowd disperse and the man puppet is left by himself. He sits on the big suitcase again with his own small suitcase next to him. Suddenly the suitcase he sits on floats. He waves his hand to here and there.
All these time the girl puppet is still turning the images inside the box. At the background small figures of the man puppet siting on suitcases are floating around. Finally the man puppet appears again. He has landed safely and is welcomed in the new land. Time flies as he is shown getting occupied by the small puppet figure version, dancing on the keys of a typewriter.

The room once again becomes silent. At the right side the man puppet reappears. This time siting inside a wooden window frame, writing. An alarm clock sits in front of him. The girl puppet sits at the left side of the room, facing a table where she writes. An alarm clock also sits next to her table. A girl comes up and tries to see what she's writing about. At the same time a boy with a cigarette is blowing the smoke toward the man puppet, teasing about the letter he writes. He then asks the smoker to post his letter into the letterbox. The girl puppet also asks the same thing to the girl who's been teasing her. Letters are exchanged.

Suddenly everything goes chaotic. A mob enters the room wearing masks resembling a regime leader. They grab the man puppet from his window frame. He struggles to escape but alas he's helpless. Time seems like going really slow. He is slowly being carried and put inside a suitcase, where he is shut inside and abandoned.The masked mob stand still, staring the audience down.

The girl puppet sits alone with her face down by the table. In front of her are the cup and the red velvet ring box. Behind her appears the other man puppet that had appeared previously, he brings a bouquet of white flowers. He approaches her. Awkwardly. Making sure the bouquet smells lovely by sniffing it a couple of times. He proceeds by sitting next to her and handing her the flowers. They sit together on the small table. She is facing the other way, being shy. Suddenly two persons appear, putting a white veil on both of them while shouting "Legit?", which is replied by others by saying "Legit!" People claps their hand and congratulating both in turns.

And the room return to silence. Colorful lanterns descent from the ceilings as two persons open the suitcase where the first man puppet has been shut inside and abandoned. He slowly rises and gets out of the suitcase. Only to discover that he is all alone. He takes a look at the nearest lantern and tries to reach it, again and again. Eventually he bolds himself up to jump to the nearest lantern that immediately lit up. From the first lantern he jumps to the next lantern, and again to the next lantern, and again until in the end he falls to the floor.

The lanterns rise up back to the ceiling. The man puppet is lift up by two persons. Now he's wearing glasses, crouches a little and his hair is grey. A desk with white table cloth is prepared for him. A typewriter and telephone are put on top of the table. A woman enters the room  and she puts on glasses to the two persons. The man puppet sits down and starts typing. Not long after the phone rings. He lifts the phone and listens to the voice speaking through it. Suddenly the room turns festive. A red and white scarf is again being tied around his shoulders. The kopiah is once again put on his head. The man puppet receives a passport. He keeps staring at it with disbelief and showing it to the audience.

On a table at the corner of the room the girl puppet reappears. This time her face is wrinkly and a shawl is draped around her shoulders to keep her warm. With a duster she starts to clean up the table. She then opens the cover of the table that is actually a box. From it she takes a piece of polaroid photograph, a memento of her memory with the man puppet. She looks at it before putting it away back inside the box. When she lifts her hand from the box again, there's the cup this time. The cup she had used to serve drinks to the man puppet. She reflects on it, as if recalling the memories. She then floats to the box of images carrying the cup, where she rediscovers the book she had read together with the man puppet. After looking at the book she leaves the cup there and returns to her corner table.

Now the man puppet that has turned old appears. He finds his old bicycle. He tries to ring the bell and it still sounds exactly the same. He jumps to the saddle and paddles. The bicycle advances in its stillness. A small puppet figure of the girl puppet appears on the back seat of his bicycle. He tries to hold her hand. At the same time, small puppet figures of both the man and girl puppets can be seen in the chair where they used to read the book together. These small puppet figures then disappear.

The man puppet gets off his bicycle. He floats toward the box with images where he finds the cup he used to drink with. At the table in the corner, the girl puppet sits together with the other man puppet, conversing in silence. Vaguely a conversation between a woman and children can be heard. The man puppet stares at the cup. He floats to the small table in the middle of the room. The room turns gloomy. He hangs his head low, reflecting on the cup in his dangling hand. The room turns dark instantly.

This was Setjangkir Kopi dari Plaja (A Cup of Coffee from Playa), a puppet show presented by the Papermoon Puppet Theatre inside an antique shop in Yogyakarta on 16 to 22 December 2011. The play is adapted from a true story of Widodo Suwardjo, a man born in Mojoagung who was sent to study in Russia under a service bond during President Soekarno era. Widodo and tens of other students were trapped in Russia when their passports were revoked by the Indonesian government following the G 30 S/PKI incident.

Before Widodo left Indonesia in 1960 he promised to marry his girlfriend Widari once he returned to the country. The promise cannot be kept since without any passport he was stateless thus he couldn't go to any country at all. Widodo only just regained his citizenship last 2007 when during the 62nd Indonesia Independence celebration in Wisma Indonesia Havana, Cuba, he was given an Indonesian passport. The story of Widodo Suwardjo colored the news in Indonesian mass medias mid 2006.

The puppet theatre play Setjangkir Kopi dari Plaja is special because it was a site specific show and was not being shown in a regular theatre. The show took place in an antique shop with its antique merchandises being used as properties of the show. The location itself was being kept as a secret to the audience as they had to gather in Kedai Kebun Forum before being taken in a bus to the show location, accompanied by a tour guide who gave interesting information regarding some of the places en route to the location.



Even as the audience arrived to the antique shop they weren't told that it was the location. The shop owner smoothly took over the guiding role by giving tour around his shop. He offered his guests to see his warehouse at the back where he kept more interesting antique items. When he's busy telling stories on how he attained particular items the light suddenly was off. As the light was back on again, the audience were presented with the puppet theatre play itself.

Papermoon Puppet Theatre was established in 2006 by Maria Tri Sulistyani who's often referred to as Ria. Starting from creating puppet shows for kids in kampong, now Papermoon chooses to explore artistic experiments using puppet theatre as the medium for a greater audience. Aside of producing plays, Papermoon often organizes puppet theatre workshops in Indonesia and abroad in between organizing Puppet Theatre Festival that presents foreign puppet theatre annually.

Setjangkir Kopi dari Plaja is dedicated to Widodo Suwardjo whose story was heard by Ria as she was doing research for the play Mwathirika, which was a big hit in Yogyakarta in Jakarta last year. Mwathirika itself will be shown in several cities in the United States in 2012. It tells the story of missing people in a period post September 1965. From one of her sources Ria first heard the story of Widodo Suwardjo that made her curious enough to trace until she finally was able to contact Widodo. And thus, Setjangkir Kopi dari Plaja, a smart puppet theatre show that manages to bring its audience deep into the emotion and obtaining a piece of history.

Minggu, 01 Januari 2012

Secangkir Kopi dari Playa di mata alphabeta journal...

Secangkir Kopi dari Playa: A Phototalk

http://alphabetajournal.com/?p=1408




Ditulis oleh Hilman Fathoni
Foto oleh Dhaifina Adani dan Hilman Fathoni


“…Dua sejoli menghabiskan waktu bersama… dengan cinta. Cinta saat mereka membaca buku bersama, mereka berteduh dari dinginya hujan… bersama, dalam hangatnya cinta masa muda. Dalam satu keterikatan bernama ‘komitmen’ dan kopi hangat berwadah cangkir dari Playa. Ketika tiba saatnya berpisah, aku lakukan apapun untuk menghapus rindu, meski pada akhirnya semua tak sama… semua tersimpan disini… di dalam memori… dan perasaan…”


“Secangkir Kopi dari Playa” adalah sebuah persembahan dari Papermoon Puppet Theatre. Penulis menghadiri perhelatan ini di hari ketujuh. Papermoon membawa penonton ke dalam sebuah penampilan teater boneka sungguh hidup. Puluhan pasang mata seolah tak bisa berpindah ke arah manapun. Mata-mata itu terus tertuju pada boneka-boneka kayu yang berayun-ayun di dalam ruangan yang berisikan barang-barang antik. Ruangan itu sendiri adalah koleksi salah satu toko yang berfokus pada benda-benda lawas di daerah Pasar Telo, Karangkajen, selatan Yogyakarta.
Ini dia beberapa foto yang penulis ambil setelah usainya pertunjukan. Penulis ingin foto-foto ini bisa mengungkapkan sendiri cerita yang baru saja ditampilkan oleh para Puppeter dalam teater tersebut. Mari, dengarkan boneka-boneka ini bercerita.

















Saatnya berpulang...

Rabu, 28 Desember 2011

Secangkir Kopi dari Playa di mata mbak Indie...

Setjangkir Kopi dari Plaja 

http://indie-banget.blogspot.com/2011/12/setjangkir-kopi-dari-plaja.html


Pak Wi dan Bu Wi (atas ijin Hera/Pak Jepret)

Meski aku sudah tau tentang rencana pementasan ini sejak lama, tapi aku nyaris saja tidak kebagian tiket. My fault. Aku terlalu sibuk, lupa memesan tiket, dan tiba-tiba tiket sudah SOLD OUT!

Tentu saja sold out. Aku bahkan sudah bisa menebak dari awal kalau tiket mereka pasti akan sold out. Apalagi dalam pertunjukan kali ini mereka hanya menyediakan tiket maksimal 20 orang per pertunjukan. Pertunjukannya sendiri digelar selama delapan hari, dengan dua kali pertunjukan dalam sehari.


"Padahal yang suruh pesan jauh hari kamu lo, Mbak," ujar Mbak Ria menohok telak.

Hihihi! Aku tauuuu! Maaf!

Tugas kuliah yang beruntun, kantor yang sedang bermasalah, penjahit yang menghilang, serta tiket ke Kupang yang sudah dibeli membuat waktu di duniaku jungkir balik. Salah satu akibatnya adalah lupa membeli tiket.

Untungnya, di detik-detik terakhir, ada dua tiket yang dibatalkan. I was so blessed! Aku pun bisa menonton bersama Mr. A. Ihi!

Kisah yang diangkat Papermoon kali ini sebenarnya kisah yang sederhana namun menarik, judulnya "Setjangkir Kopi dari Plaja". Sedari awal aku sudah takut dibuat nyaris menangis seperti pada pementasan Mwathirika.

"Nggak kok, cuma ini ceritanya nggawe emosi," kata Mbak Ria dulu, tanpa menjelaskan deskripsi apapun.

Ceritanya sendiri, menurut Mbak Ria, sebenarnya telah tersebar di internet. Dia bahkan menyarankanku untuk googling. Tapi kalau googling-nya baru sekarang, yang muncul justru banyak liputan tentang pertunjukan ini. Hihihi!

Berkisah tentang perjalanan cinta Pak Wi yang tragis, dalam pertunjukan ini Papermoon menggunakan boneka mungil dengan toko barang antik sebagai panggung. Pak Wi sendiri adalah seorang mahasiswa Fakultas Teknik di UGM yang di tahun 1960-an mendapat kesempatan melanjutkan studi di Rusia untuk mempelajari Metalurgi.

Presiden Sukarno saat itu memang bercita-cita tinggi, menjadikan industri baja sebagai salah satu tulang punggung industri di Indonesia. Apa daya, tahun 1965 terjadi kerusuhan, membuat Indonesia kehilangan cita-cita Pak Karno serta membuat Pak Wi kehilangan kewarganegaraannya dan tidak dapat kembali ke Indonesia.

Pak Wi yang sebelum berangkat sempat berjanji pada kekasihnya untuk menikahinya begitu tugas belajarnya selesai pun harus menghadapi nasib di depannya. Bukannya menikahi, ia justru putus kontak dengan keluarga dan kekasihnya hingga puluhan tahun. Dan diusianya yang telah mencapai 70-an tahun, ia masih setia pada janjinya dan tidak menikah. Sementara, menurut kabar berita, kekasihnya sudah memiliki empat cucu.

Kisah tersebut merupakan versi singkatnya. Tapi, satu ungkapan yang menurutku bisa merangkum pertunjukan ini: jenius!

Berbeda dengan pertunjukan pada umumnya, pertunjukan ini dimulai jauh dari panggung. Lokasi berkumpul dan tempat pertunjukan cukup jauh. Papermoon pun menyiapkan bis beserta guide yang kocak untuk menemani perjalanan penonton ke sebuah toko barang antik.

Di toko itu, kami disambut oleh 'pemilik toko' yang sempat membuatku rikuh karena tidak tau harus berbuat apa. Lalu kami digiring ke sebuah gudang, dan diminta duduk. Sang 'pemilik toko' masih terus menawarkan barang-barang antiknya, lalu... mak pet!

Lampu mati.

Terdengar keributan kecil antara 'pemilik toko' dengan orang-orang di belakang. Lalu suara keributan mulai menghilang dan ketika telah sunyi lampu remang-remang pun dinyalakan.

Pertunjukan dimulai.

Dengan mengumandangkan lagu-lagu semacam orkes kroncong dari masa lalu, Papermoon sukses membangun suasana era tahun 60-an. Paduan lagu dan setting toko barang antik menyeretku ke masa lalu.

Terlepas dari itu, salah satu hal yang menarik dari pertunjukan ini adalah keberhasilan Papermoon hadir dalam pertunjukannya. Maksudku, dalam pertunjukan ini, para puppeteer tidak berusaha menghilangkan diri dengan mengenakan kostum tertentu. Namun, mereka justru di beberapa bagian muncul pula sebagai aktor yang berinteraksi dengan bonekanya.

Meski tetap muncul dengan pakaian 'vintage', Papermoon berhasil menghilangkan batas antara puppeteer dan bonekanya, serta justru dapat lebih menghidupkan boneka itu.

Tidak hanya batas itu saja yang dihilangkan. Dalam rangkaian pertunjukannya, Papermoon berhasil pula menghilangkan batasan panggung. Semua hal yang dialami penonton sejak mereka masuk ke dalam bis, hingga tingkah polah 'pemilik toko', menurutku adalah satu rangkaian pertunjukan dengan panggung tidak tampak.

Akan tetapi, bagian yang paling aku suka dari rangkaian pertunjukan ini adalah saat pertunjukan selesai. Ketika lampu dinyalakan dan 'pemilik toko' masuk kembali ke area 'panggung'. Ini membuatku merasa seperti terbangun dari mimpi.

Kejadian padamnya lampu dan lampu kembali dinyalakan seakan-akan hanya terjadi dalam beberapa menit. Atau mungkin dalam hitungan detik. Namun pada kenyataannya, Papermoon menyuguhkan pertunjukan selama sekitar 40 menit.

Itu membuatku seperti terhipnotis dan dibawa ke alam mimpi.

Luar biasa. Kali ini aku tidak hanya 'menonton' sebuah pertunjukan. Dengan tiket seharga Rp 30.000,-, bisa dikatakan aku mendapatkan pengalaman 'berwisata' ke masa lalu.

Itu kenapa aku bilang Papermoon jenius. :)
-o0o-


Dan Hera merusak imajinasi senduku tentang sepinya hidup Pak Wi dengan mengatakan bahwa boneka Pak Wi tua mirip dengan tukang krupuk di daerah rumahnya. Yeah rite!